Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 23 atas Jasa Penyewaan Kendaraan untuk Perusahaan merupakan salah satu objek withholding tax (pemotongan pihak ketiga) yang paling sering ditemui dalam transaksi antar-bisnis (B2B).
Di dalam ekosistem Coretax Administration System, setiap bukti pemotongan PPh Pasal 23 wajib diterbitkan secara elektronik oleh pihak penyewa (perusahaan) melalui modul e-Bupot. Data tersebut akan langsung mengalir secara real-time ke akun pajak pengusaha rental pihak pemilik rental kendaraan sebagai kredit pajak.
Berikut adalah panduan lengkap mengenai tarif, dasar pengenaan pajak, cara menghitung, hingga mekanismenya berdasarkan ketentuan UU PPh s.d. UU HPP:
1. Tarif dan Dasar Pengenaan Pajak (DPP)
Secara umum, tarif PPh Pasal 23 untuk sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta (termasuk sewa mobil/motor/truk/bus) adalah 2%.
Namun, besarnya tarif efektif sangat dipengaruhi oleh kepemilikan NPWP/NIK yang valid oleh pihak pemilik kendaraan:
-
Memiliki NPWP/NIK Valid: Dipotong sebesar 2% dari Dasar Pengenaan Pajak (DPP).
-
TIDAK Memiliki NPWP: Dikenakan tarif denda 100% lebih tinggi, sehingga tarif potongan menjadi 4% dari DPP.
-
Dasar Pengenaan Pajak (DPP): Nominal murni nilai sewa yang tercantum dalam invoice (tidak termasuk PPN).
2. Aturan Kritis: Pemisahan Biaya Sopir dan BBM
Berdasarkan PMK Nomor 141/PMK.03/2015, jika perusahaan menyewa kendaraan beserta sopir (charter/all-in), perlakuan PPh Pasal 23 ditentukan oleh cara pengusaha rental menstrukturkan invoice tagihannya:
Kondisi A: Invoice Dirinci (Efisien Pajak)
Jika dalam invoice ditulis terpisah antara sewa unit mobil, jasa sopir, dan biaya BBM/tol (reimbursement).
-
Perlakuan PPh 23: Tarif 2% hanya dikenakan atas nilai sewa mobil dan jasa sopir. Komponen BBM dan tol bebas dari potong PPh 23 (wajib melampirkan struk pembelian BBM asli).
Kondisi B: Invoice Gabungan / All-In (Pemborosan Pajak)
Jika invoice diterbitkan secara gelondongan (contoh: “Sewa armada all-in sebulan: Rp15.000.000”).
-
Perlakuan PPh 23: Tarif 2% akan dikalikan dari total nilai bruto Rp15.000.000. Perusahaan penyewa terpaksa memotong pajak atas porsi BBM dan tol.
3. Simulasi Perhitungan Pajak (B2B)
Studi Kasus: PT Sentosa menyewa 2 unit minibus dari CV Trans Rental (memiliki NPWP dan berstatus PKP) untuk operasional kantor selama 1 bulan. Nilai kontrak sewa murni kendaraan adalah Rp20.000.000 (belum termasuk PPN).
Mekanisme pemotongan keuangan yang wajib dilakukan oleh PT Sentosa adalah:
-
Hitung PPh Pasal 23 (Dipotong PT Sentosa):
-
Hitung PPN 11% (Diyur oleh PT Sentosa ke Vendor):
-
Jumlah Kas Netto yang Ditransfer PT Sentosa ke Rekening CV Trans Rental:
PT Sentosa wajib menyetorkan uang PPh 23 sebesar Rp400.000 tersebut ke kas negara dan menyerahkan Bukti Potong e-Bupot PPh 23 kepada CV Trans Rental.
4. Pengecualian PPh 23: Jika Vendor Menggunakan PPh Final UMKM 0,5%
Jika pemilik rental kendaraan adalah pengusaha skala UMKM (Orang Pribadi atau Badan) yang menggunakan skema PPh Final 0,5% berdasarkan PP 55/2022, maka aturan PPh Pasal 23 menjadi tidak berlaku.
-
Syarat Bebas PPh 23: Vendor rental wajib menyerahkan Surat Keterangan (Suket) PP 55 yang diunduh resmi dari portal Coretax kepada perusahaan penyewa.
-
Konsekuensi: Perusahaan penyewa tidak boleh memotong PPh 23 sebesar 2%, melainkan wajib memotong PPh Final UMKM sebesar 0,5%. Hal ini sangat menguntungkan arus kas vendor rental karena porsi potongan pajaknya menjadi jauh lebih kecil.